For Emergency Only

+62 361 - 265 083

For Emergency Only 0361 - 265 083

Jangan Sepelekan Sindrom Burnout

Jangan Sepelekan Sindrom Burnout

18 Jun 2018 dr. Rini Siallagan Articles 244

Sindrom Burnout diperkenalkan pertama kali pada tahun 1980 oleh psikoanalis terkemuka Amerika Serikat yakni Freudenberger.  Meski sudah diperkenalkan sejak 48 tahun yang lalu, burnout belum dikenal dan dimengerti dengan baik oleh sebagian besar masyarakat dunia modern.  Kita sering mendengar keluhan- keluhan seperti ini : ‘’ aku kelelahan, seperti kehabisan baterai’’ atau ‘’aku seperti mesin tua yang tak bertenaga’’. Keluhan-keluhan tersebut sering terdengar di sekitar kita tapi sebagian besar kita akan menganggap bahwa ucapan seperti itu hanyalah keluhan akibat kurang tidur atau kurang berolahraga malah justru sebagian lagi berpikir keluhan semacam itu bisa jadi alasan untuk bermalas-malasan.

Jika sebuah baterai kehabisan energinya, maka baterai tersebut tidak akan bisa bekerja. Secara metafora, sindrom Burnout ialah kehabisan energi seperti baterai kehabisan energinya. Namun secara medis, hingga kini definisi burnout masih didiskusikan oleh ahli kedokteran jiwa dan kedokteran okupasi.  Tapi satu yang pasti sindrom burnout sudah menjadi masalah dan karena itu diagnosis burnout dapat ditemukan di ICD 10 (International Classification Of Disease 10) yakni pada kode diagnosis Z.73.0.

Lalu, apakah itu Sindrom Burnout?

Sindrom Burnout ialah kelelahan berlebihan secara fisik, mental dan emosi akibat stres yang berlebihan dan berkepanjangan. Ketika kita mengalami  satu stres dan aktivitas pekerjaan yang berlebihan kemudian dibebani oleh stres lain lagi dan tuntutan baru lagi secara naluriah kita akan berusaha memenuhi semua tuntutan tersebut dan kemudian dibebani oleh jadwal pekerjaan dan juga beban lain dan jika hal tersebut terjadi berkepanjangan maka stres tersebut dapat menyerap energi fisik dan emosi hingga mental kita secara perlahan.

Apakah yang menyebabkan Sindrom Burnout?

Awalnya sindrom burnout dikaitkan dengan stres pekerjaan namun menurut penelitian terbaru sindrom burnout bukan hanya mengenai stres pekerjaan melainkan ada beberapa faktor antara lain:

  1. Ekonomi : stres akibat permasalahan ekonomi yang semakin meningkat pada era modern menghasilkan manusia modern yang akan bekerja keras untuk memenuhi tuntutan ekonomi sehingga mengesampingkan kebutuhan untuk beristirahat atau mengambil libur.

  2. Lingkungan Pekerjaan: Jika pekerjaan kita memiliki stres yang tinggi namun ketika lingkungan bekerja kita kondusif dan mendukung maka umumnya pekerjaan terasa lebih ringan. Namun jika lingkungan pekerjaan begitu kompetitif, rekan kerja yang kurang fleksibel, mekanisme kerja yang tinggi hingga ketidakpastian posisi di pekerjaan disebutkan menjadi salah satu faktor sindrom burnout.

  3. Kehidupan sosial: Kehidupan sosial meliputi hubungan ditengah keluarga, pertemanan hingga masyarakat secara luas. Stres yang dialami oleh manusia bisa berasal dari lingkungan sosial ini. Hubungan keluarga yang tak harmonis atau tidak hangat,  hubungan yang kurang terbuka dengan teman akrab ditambah lagi kehidupan di era modern dimana manusia lebih terpaku kepada sosial media dan gadget sehingga kurang berkomunikasi dengan teman di sekitar.
    Ketiga faktor diatas akan menyebabkan stres psikososial  dan stres psikomental  yang akhirnya menyebabkan sindrom burnout.

    1. Gejala fisik Sindrom Burnout
    a. Mudah lelah
    b. Gangguan masalah imun, mudah terserang flu
    c. Sering mengeluh sakit kepala dan nyeri otot
    d. Gangguan pola tidur dan pola makan

    2.Gejala Emosi Sindrom Burnout:
    a. Pesimis dan menjadi mudah ragu
    b. Merasa mudah menyera
    c. Tidak termotivasi
    d. Menjadi lebih sinis, sensitif dan agresif

    3.Gangguan Prilaku yang sering pada Sindrom Burnout :
    a. Menarik/Menghindari tanggung jawab
    b. Menarik diri dari pergaulan
    c. Menjadi lebih lambat dalam menyelesaikan pekerjaan
    d. Mencari pengalihan kepada penggunaan alkohol, obat-obatan atau makanan

 

Sindrom burnout yang tidak diselesaikan dengan baik bisa mengarah kepada depresi, gangguan cemas hingga prilaku percobaan bunuh diri.

Stres dan Sindrom burnout berbeda. Sindrom burnout adalah stres yang berkepanjangan dan tidak terselesaikan dengan baik. Orang yang mengalami stres masih menaruh harapan pada apa yang ia kerjakan dan stres lebih cenderung kepada gejala fisik. Namun Sindrom burnout ialah stres yang pada akhirnya berakibat bukan hanya kepada gejala fisik melainkan juga mental dan emosi sehingga diikuti dengan perasaan tidak ada harapan, agresif dan depresif. Seringnya seseorang yang mengalami sindrom burnout tidak menyadari ia mengalami gangguan tersebut tetapi orang disekitar mulai melihat penurunan kualitas pekerjaan, perubahan prilaku dan gangguan kesehatan seperti kelelahan yang berkepanjangan.

Bagaimana menjaga agar stres tidak menjadi Sindrom Burnout?

  1. Evaluasi kembali prioritas hidup kita. Pikirkan secara terbuka apa yang menjadi prioritas, tujuan dan harapan kita. Belajarlah mengatakan ‘’tidak’’ jika beban yang Anda terima sudah melelahkan dan Anda butuh istirahat.

  2. Berikanlah jeda pada kehidupan teknologi Anda, jika Anda kelelahan hindarilah kebiasaan berseluncur di dunia sosial media, hindari kebiasaan duduk didepan televisi dan komputer.

  3. Kembalikan sisi kreatif Anda, ingat kembali hobi Anda. Jika Anda masih bingung apa yang ingin Anda lakukan, ambilah jeda untuk berlibur, lebih dekat dengan alam menurut penelitian sangat baik bagi kesehatan fisik dan emosi.

  4. Berikan waktu untuk relaksasi, olahraga dan tidur yang cukup dapat membantu otot-otot Anda yang tegang akibat stress yang berlebihan. Yoga, meditasi, pilates hingga lari dapat membantu Anda rileks dan mendapatkan kualitas tidur yang baik.

  5. Makanlah makanan yang sehat, makanan yang sehat dan rendah gula akan membantu tubuh Anda untuk rileks karena berpengaruh pada kadar hormon stres (kortisol).  Hindari alkohol dan kopi yang belebihan, alkohol dan kopi baik diminum secukupnya saja, pada saat stres berlebihan tidak disarankan mengkomsumsi alkohol dan kopi yang berlebihan karena mengganggu pola tidur, regulasi gula hingga peningkatan hormon stres.

 

Sangat penting bagi kita untuk menjaga keseimbangan fisik, mental dan emosi demi kualitas hidup yang lebih baik. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter terdekat jika Anda mengalami kecurigaan kelelahan atau stres yang berlebihan.